7 Panglima perang terhebat dalam sejarah

Spread the love

7 Panglima perang terhebat dalam sejarah

Keberlangsungan suatu kerajaan besar tidak cuma ditentukan oleh pemimpinnya. Dibawah raja atau kaisar ada banyak ‘pion’ terpenting yang bekerja melindungi keutuhan suatu negara apabila mungkin saja memperluasnya.
Di masa lalu beberapa jenderal serta panglima yang maju ke medan perang adalah tonggak negara. Dari kepemimpinan serta taktik cerdas mereka kerajaan dapat melakukan ekspansi sampai beberapa daerah yang jauh dari pusat kekuasaan pemimpin paling tinggi.

Pasti tidak mengherankan bila beberapa panglima perang diingat sejarah menjadi tokoh terhormat. Gabungan ketrampilan militer, keberanian, serta kecerdasan membuat nama mereka harum di seluruh dunia.
Di bawah ini beberapa nama panglima perang paling hebat yang sempat dikenal dunia, termasuk juga dari tanah air.

1. Napoleon Bonaparte

Sebelum mengangkat dirinya sendiri sebagai kaisar Prancis, Napoleon sudah lebih dulu dikenal dunia barat sebagai seorang pemimpin militer yang andal.
Negarawan kelahiran Corsica, 15 Agustus 1769 ini menanjak karirnya selama Revolusi Prancis. Berkat penyerangan-penyerangan yang dia pimpin selama Perang Revolusioner Prancis dan Perang Napoleon, Prancis sukses mendominasi Eropa selama satu dekade dan menghabisi musuh-musuh dalam selimut yang bisa membahayakan koalisi.

Napoleon dianggap sebagai salah satu panglima terbesar dalam sejarah di mana riwayat penaklukan dan strategi perangnya dipelajari di sekolah-sekolah di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Napoleon diingat sebagai seorang pria bertubuh kecil dengan ambisi besar. Karisma membuat orang-orang yang pernah bertatap muka dengannya heran, karena fisiknya sama sekali tak sesuai dengan reputasinya yang menakutkan.

2. Genghis Khan


Genghis Khan adalah pendiri Kekaisaran Mongol dan Khan Agung pertama. Bagi sebagian besar warga Mongolia dialah pendiri negara tersebut. Pria yang lahir dengan nama Temujin ini berkuasa setelah menyatukan suku-suku nomaden di timur laut Asia lewat serangkaian pertempuran.

Setelah diangkat menjadi Genghis Khan dia menjalankan serangkaian invasi dan menaklukkan sebagian besar Eurasia. Di akhir hayatnya Kekaisaran Mongol telah menduduki titik penting di Asia Tengah dan China pula.
Genghis Khan juga dianggap berjasa karena telah mengamankan Jalur Sutera, sehingga tercipta komunikasi perdagangan yang bagus antara Asia Timur Laut, Asia, dan Eropa. Dia menetapkan aksara Uyghur sebagai sistem penulisan yang berlaku, mempraktikkan meritokrasi, dan mendorong toleransi beragama di negara tersebut.

3. Alexander Agung


Alexander III dari Macedonia atau lebih dikenal dengan nama Alexander Agung merupakan seorang raja dan panglima militer yang mendapat julukan ‘agung’ karena kepiawaiannya sebagai seorang pemimpin perang. Alexander tak pernah kalah dalam pertempuran, bahkan ketika jumlah pasukan yang dimilikinya kalah jumlah. Semua itu karena taktik cerdas, strategi berani, dan didukung kesetiaan para prajurit.

Alexander meninggal di usia muda, yaitu 32 tahun. Dia menghabiskan sebagian besar tahun-tahun kekuasaannya dalam kampanye militer melalui Asia dan Afrika timur laut, untuk menciptakan salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah. Daerah kekuasaannya meliputi Yunani, India, Eropa, Persia, dan Mesir.

4. Tariq bin Ziyad


Tariq dikenal sebagai penakluk Spanyol dan diakui sebagai salah satu panglima militer Muslim terbesar sepanjang masa. Walaupun begitu tak banyak informasi mengenai asal-usul dan kebangsaannya yang bisa digali. Ada yang menyebut dirinya sebagai orang Persia, anggota klan Sadif, Berber dari Aljazair atau bahkan budak dari seorang emir Afrika Utara.

Tariq membagi pasukannya menjadi empat divisi saat mereka mengejar musuh yang kalah ke Toledo. Mereka segera menaklukkan Kordova, Granada, Toledo dan Guadalajara. Bersama Musa bin Nusayr, dia menaklukkan sekitar dua pertiga Semenanjung Iberia yang meliputi Saragossa, Barcelona, dan Portugal. Tentara Muslim bahkan pergi ke Prancis dan menaklukkan Lyons. Itulah awal pemerintahan Muslim di Spanyol sampai 1492.

5. Ieyasu Tokugawa


Ieyasu Tokugawa adalah shogun pertama dari Keshogunan Tokugawa Jepang, yang secara efektif memerintah Jepang sejak Pertempuran Sekigahara pada tahun 1600 hingga datangnya Restorasi Meiji di tahun 1868.
Ieyasu merebut kekuasaan pada tahun 1600, ditunjuk sebagai shogun pada tahun 1603, dan turun tahta dari jabatannya pada tahun 1605, tetapi tetap berkuasa sampai kematiannya pada tahun 1616.

Ieyasu memiliki sejumlah kualitas yang memungkinkannya untuk naik ke tampuk kekuasaan. Dia adalah ahli strategi yang berhati-hati, namun berani mengambil keputusan berani di saat yang tepat. Dia sempat bersekutu dengan klan Hojo, Nobunaga Oda, serta Hideyoshi Toyotomi dan menghasilkan keuntungan untuk kedua belah pihak.
Sampai saat ini Ieyasu disebut sebagai salah satu dari tiga pemersatu Jepang. Dua lainnya adalah mantan majikannya, Nobunaga Oda dan Hideyoshi Toyotomi.

6. Laksamana Yi Sun-Shin


Laksamana Yi Sun-Shin adalah pemimpin angkatan laut Korea dalam Perang Imjin dan berhasil meraih kemenangan dalam 23 pertempuran dengan taktik dan strategi militer. Dianggap luar biasa sebab pasukan Yi selalu kalah jumlah dalam setiap pertempuran.

Kemenangan Yi yang paling gemilang adalah Pertempuran Myeongnyang, di mana dia mengalahkan 333 kapal Jepang hanya dengan 13 kapal. Hasil akhirnya adalah 123 kapal cacat dan atau hancur, dan 18.000 tentara Jepang tewas, sementara armada Yi kehilangan kapal dan hanya kehilangan paling banyak 36 tentara.
Admiral Yi juga berjasa atas penemuannya, Kapal Penyu yang sangat efektif dalam pertempuran di laut. Saat ini, Laksamana Yi dikenang sebagai pahlawan terbesar Korea dan salah satu pemimpin militer terbesar dalam sejarah.

7. Mahapatih Gajah Mada


Mahapatih Gajah Mada dikenal sebagai seorang jenderal dan panglima perang andal dari nusantara. Dia melaksanakan politik penyatuan nusantara selama bertugas sebagai patih Majapahit. Berkat kegigihannya, negara-negara di luar wilayah Majapahit berhasil ditaklukkan, antara lain Gurun (Lombok), Seram, Tanjung Pura (Kalimantan), Haru (Sumatera Utara), Pahang (Malaya), Dompo, Bali, Sunda, Palembang (Sriwijaya), dan Tumasik (Singapura). Menurut Nagarakretagama, nama-nama negara yang disebutkan bahkan jauh lebih banyak lagi.

Bersama Laksamana Nala yang mengomandani pertempuran di laut, Gajah Mada memulai kampanye invasi ke Swarnnabhumi (Sumatera), Bintan, Tumasik (sekarang Singapura), dan Semenanjung Malaya. Bersama Arya Damar dia menaklukan Bedahulu (di Bali), Lombok, Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kendawangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Sulu, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei, dan Malano.

Di bawah pemerintahan Hayam Wuruk, Gajah Mada terus melakukan penaklukan ke wilayah timur sampai tahun 1357. Namun peristiwa Perang Bubat yang membuat diplomasi Hayam Wuruk terhadap Kerajaan Sunda gagal telah mencoreng nama Gajah Mada.

 

sumber:https://www.merdeka.com&Google.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *